Oleh: Jabal Ali Husin Sab
"J’seus condemn atre libre/man are condemned to be free. Manusia dikutuk untuk bebas." (Jean Paul Sartre)
PEMILIHAN kata condemned yang berarti dikutuk, dalam adagium terkenal
dari tokoh eksistensialisme Perancis tersebut bukanlah hanya sebatas
sensasi bahasa. Pemilihan kata “dikutuk”, “terkutuk” atau “kutukan”
sepertinya dipilih untuk mengungkapkan keadaan alamiah atau keniscayaan
yang sifatnya mutlak; yang berarti manusia secara alamiah mutlak
bebas/merdeka.
Penggunaan
kata condemned (dikutuk) jika diganti dengan destined (ditakdirkan)
akan memberikan makna yang setara terhadap istilah tersebut: manusia
yang memang (ditakdirkan) seharusnya bebas, sudah begitu adanya. Namun
kata takdir berhubungan dengan siapa yang menakdirkan, tentulah Tuhan.
Kata ini dalam bahasa apapun tidak terlepas pemahamannya dari ketentuan
Tuhan atas ciptaannya. Konsep takdir sendiri dikenal dalam bahasa
manapun sebagai sebuah ketentuan yang digariskan Tuhan kepada manusia.
Sementara kutukan seringkali berhubungan dengan hal atau nasib yang
terjadi pada seseorang yang ditimbulkan dari manusia sendiri, atau
pelanggaran atas hal-hal tertentu. Hal ini berhubungan dengan mitos dan
takhayul di dalam cerita rakyat. Kutukan dalam cerita rakyat biasanya
berakar dari ajaran animisme yang berhubungan dengan hukum alam semesta
serta hal-hal yang terkait mitos dan takhayul dalam masyarakat yang
belum mengenal konsep agama monoteis.
Penyematan kata kutukan atas pendapat Sartre tentang kondisi alamiah
manusia yang melepaskan kebebasan di luar kehendak Tuhan, membuat
kebebasan versi dirinya dan para pengikutnya berada dalam kerancuan
makna kebebasan itu sendiri. Eksistensialisme bagi Sartre merupakan
sebuah gerakan perlawanan yang menggugat esensi (hakikat hidup) manusia
dan segala tujuan dalam hidup yang telah ditentukan sebelumnya, baik
oleh agama maupun oleh filsafat.
Menggugat Modernitas
Eksistensialisme juga menggugat modernitas,
di mana manusia dipaksa untuk masuk ke dalam tatanan nilai dan norma
kolektif yang membelenggu. Manusia modern, bagi kaum eksistensialis,
hidup dalam jeratan rutinitas di mana ia tidak berkesempatan untuk
menggali kesadaran akan kemanusiaannya. Hidupnya begitu statis dalam
pilihan-pilihan yang sudah lebih dulu diatur. Ia menggugat kebebasan
dirinya dalam menentukan tatanan nilai dan norma sendiri oleh dirinya
sendiri sebagai bentuk kesadaran akan kehendak dirinya, eksistensi
mendahului esensi.
Kaum eksistensialis ingin membebebaskan manusia dari fungsi dan
tujuan apapun yang di luar kehendak dirinya. Berbeda misalnya dengan
kompor yang diciptakan dengan tujuan untuk memasak, bagi kaum
eksistensialis, manusia lahir tanpa ada yang memberikan hakikat tujuan
penciptaan dirinya kecuali dirinya sendiri. Tentunya pendapat ini
disimpulkan karena mereka tidak mengakui keberadaan Tuhan yang
menciptakan manusia atas tujuan tertentu.
Bagi Sartre, manusia memberikan makna atas dirinya melalui
tindakan-tindakannya dengan tujuan yang berasal dari dirinya sendiri
dalam proses kehidupan. kehendak diri menjadi panduan dalam memaknai
kehidupannya. Dalam pandangan eksistensialis, seseorang tidak bisa
menyalahkan kesalahan orang lain dari pilihan-pilhan hidup yang diambil
yang didasarkan pada tujuan yang ia tentukan. Kehendak liar untuk bebas
telah menjadi panduan dalam menentukan jalan kehidupan bagi Sartre.
Kebebasan yang tak terkontrol seringkali membuat manusia tidak
bertanggungjawab atas nikmat hidup yang ia miliki. Di masa muda,
seseorang menganggap minuman kerasa dan ganja baik bagi dirinya. Namun
di masa tertentu ia akan menerima konsekuensi logis dari kebiasaan
buruknya yang misalnya merusak kesehatannya, selain masalah moralitasnya
yang sudah tentu terganggu. Namun bagi kaum eksistensialis, pilihan
masa mudanya itu tidak bisa disalahkan karena dirinya adalah mutlak
miliknya sendiri.
Pada kondisi tertentu setelah memilih jalan hidup untuk mabuk-mabukan
tadi, seseorang akan merenungi nasibnya atas konsekuensi yang
didapatnya. Ia kembali harus merenungi hidupnya dan memikirkan kembali
tujuan hidupnya. Seringkali semuanya telah terlambat, ia telah mengawali
hidupnya dengan dalih kebebasan kehendak untuk merusak dirinya dan
membuat kondisi kehidupannya tidak bahagia dan berdampak pada kehidupan
barunya dengan tujuan hidupnya yang baru.
Manusia jenis ini terjebak pada keterbatasan dirinya dengan
menjadikan dirinya sendiri sebagai tolak ukur. Sementara pikirannya
terbatas pada pengetahuan yang ia miliki, terikat pada ruang,
lingkungan, waktu dimana ia berada, terlebih lagi ia terjebak pada
kehendak nafsu atas kenikmatan-kenikmatan sesaat.
Tujuan Penciptaan
Sementara bagi umat Islam yang percaya akan keberadaan Tuhan dan mempercayai wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, mengetahui hakikat penciptaannya di muka bumi melalui wahyu yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw, sebagaimana firman-Nya: “Tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah (Allah).” Dalam ayat yang lain disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Jadi, kalam Allah menyiratkan pengetahuan tentang identitas manusia sebagai abid yaitu hamba sekaligus khalifah (pemimpin).
Sementara bagi umat Islam yang percaya akan keberadaan Tuhan dan mempercayai wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, mengetahui hakikat penciptaannya di muka bumi melalui wahyu yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw, sebagaimana firman-Nya: “Tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah (Allah).” Dalam ayat yang lain disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Jadi, kalam Allah menyiratkan pengetahuan tentang identitas manusia sebagai abid yaitu hamba sekaligus khalifah (pemimpin).
Untuk
itu, segala panduan kehidupan dan apa-apa yang harus dijalankan manusia
dalam kehidupan ini serta untuk menyingkap segala rahasia pencipataan
dan rahasia Sang Pencipta berada di dalam wahyu yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad saw. Serta perkataan, perbuatan dan suri teladan yang ada
pada Nabi saw juga merupakan panduan bagi manusia dalam menemukan esensi
penciptaannya sekaligus panduan bagi tujuan penciptaannya di muka bumi.
Dengan ilmu pengetahuan yang telah diberikan padanya, manusia
diberikan kehendak dalam menentukan ruang kebebasannya. Allah memberikan
pilihan (ikhtiar) bagi manusia untuk memilih mana yang baik dan yang
buruk. Bagi manusia yang mempunyai kesadaran tentang hakikat kehidupan,
ia tahu bahwa kehendak Tuhan adalah yang terbaik bagi dirinya. Ia
senantiasa memanfaatkan ruang kebebasan (ikhtiar) dengan menyelaraskan
antara kehendak Tuhan didalam wahyu dengan akalnya, sehingga ia
mendapatkan keselamatan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.
Ketaatan manusia kepada Allah Swt lahir dari ilmu yang memberikan
pengetahuan serta kesadaran tentang hakikat dirinya sebagai manusia.
Sementara penentangan terhadap Tuhan dan pemaksaan kehendak diri adalah
bawaan naluriah dari seorang rational animal yang gagal menyingkap tabir
pengetahuan. “Terkutuk untuk bebas” dianggap sebagai sebuah keniscayaan
manusia yang sadar akan keberadaan dirinya. Kutukan bagi manusia yang
sebenarnya adalah kehendak liarnya, kehendaknya yang tak pernah ia
pahami.
*Tulisan ini telah dimuat di Harian Serambi Indonesia.
Posting Komentar